Lo bisa bayangin gak sih, ada sound system seharga Rp2 miliar. Bukan untuk konser artis internasional. Bukan buat festival musik gedean. Tapi buat… arisan ibu-ibu? Pernikahan kampung? Acara tahlilan?
Gue juga kaget waktu pertama denger.
Tapi ini realita yang bikin para pemilik grup musik dan EO pusing tujuh keliling. Investasi audio sebesar itu malah lebih laku di tangan warga kampung daripada event profesional. Dan fenomena ini udah berlangsung beberapa tahun, bahkan trennya makin naik di 2026.
Yang bikin tambah absurd: MUI udah ngeluarin fatwa haram buat sound horeg karena dianggap mengganggu. Polisi juga udah ngelarang di beberapa kota kayak Malang. Tapi tetap aja, bisnis ini jalan terus.
Gue bakal bongkar kenapa orang rela bayar puluhan juta sampe miliaran buat sound system yang sebenernya “gak perlu sebesar itu”, dan apa pelajaran buat lo yang berkecimpung di industri musik dan event.
Biaya Gila-gilaan yang Bikin EO Melongo
Biar lo gak cuma baca “Rp2 miliar” doang, ini gue rincikan angkanya:
Per malam, bro. Bukan seminggu. Per malam.
Padahal, event musik profesional aja, untuk skala lokal, harga sewanya jauh di bawah itu. Menurut data rental sound system, untuk konser atau gala dinner, paket high-end dengan line array gantung dan kru profesional cuma Rp7,5 – 15 jutaan .
Bedanya 2-4 kali lipat.
Terus kenapa sound horeg bisa lebih mahal dari konser profesional? Karena yang dijual bukan kualitas audio, tapi status sosial.
Kasus 1: Brewog Audio — Dari Blitar Jadi Primadona Nasional (Meski Banyak yang Melarang)
Brewog Audio ini adalah salah satu nama paling gede di industri sound horeg. Berbasis di Blitar, Jawa Timur, usaha milik Muzahidin (biasa dipanggil Mas Bre) ini udah punya reputasi gila-gilaan di media sosial .
Klien mereka? Bukan artis papan atas. Tapi warga biasa yang punya hajat: pernikahan, sunatan, bersih desa, bahkan pengajian.
Tarif sewa Brewog bervariasi, mulai 2-5 jutaan untuk paket kecil sampe 30-55 juta untuk paket gede. Ada juga opsi paket full setup sampe miliaran .
Konyolnya? MUI udah mengeluarkan fatwa yang intinya mengharamkan praktik sound horeg karena dianggap mengganggu kenyamanan dan ketertiban umum . Polresta Malang juga resmi melarang kegiatan sound horeg di wilayah hukum mereka. Kabag Ops Polresta Malang Kota, Kompol Wiwin Rusli, bilang kalau masyarakat tetep nekat, polisi bakal melakukan penangkapan .
Tapi Brewog masih tetap laku. Kenapa?
Karena yang namanya aturan larangan, di tingkat desa, kadang gak segampang itu diterapin. Warga punya cara sendiri buat “mengakali” regulasi. Dan kalo udah menyangkut gengsi keluarga di hari pernikahan, duit puluhan juta pun rela dikeluarin.
Kasus 2: GEMES 2025 — Anggaran Rp2 Miliar, Sound Mati, Event Gagal
Biar gak ngejauhin topik, gue kasih contoh kasus di sisi lain. Ada event besar namanya Gelar Melayu Serumpun (GEMES) 2025 di Medan. Anggarannya hampir Rp2 miliar dari APBD .
Acaranya resmi, megah (katanya), melibatkan Dinas Pariwisata.
Tapi hasilnya? Amburadul. Sound system mati pas perwakilan Gubernur lagi sambutan. Sepi pengunjung. Stand UMKM lesu. Warganet pada kecewa .
Ini contoh ironis: event resmi dengan dana negara, pakai sound system (entah merk apa) gagal total. Sementara sound horeg kampungan dengan tarif miliaran, acaranya tetap jalan dan warga puas.
Gak heran kalo grup musik dan EO pada kebingungan. Kenapa sistem yang lebih simpel dan “tidak profesional” bisa lebih dipercaya publik daripada event yang pakai standar tinggi?
Kasus 3: Betavo Audio — Solusi “Kampung” yang Justru Diserbu EO Profesional
Ada juga cerita dari sisi lain. Betavo Audio, brand yang lebih fokus ke solusi audio praktis buat masyarakat umum, mulai dilirik sama EO profesional di Bontang .
Layanan mereka dirancang untuk berbagai acara, mulai dari pernikahan, seminar perusahaan, sampai komunitas kreatif. Bedanya dengan sound horeg, Betavo lebih mengutamakan kejernihan dan kenyamanan, bukan volume menggelegar .
Yang menarik, Betavo justru berhasil menjembatani kesenjangan antara kebutuhan audio “kampung” dan “profesional”. Mereka mengedukasi masyarakat bahwa suara bagus itu bukan cuma soal keras, tapi soal jernih dan nyaman di telinga .
Ini pelajaran penting: Jangan remehkan pasar akar rumput. Mereka punya daya beli dan punya selera. Tugas lo sebagai EO atau musisi adalah mengakomodir selera itu dengan cara yang profesional, bukan menertawakan mereka.
Data: Kenapa Sound Horeg Lebih Laku dari Event Profesional?
Gue kumpulin dari berbagai sumber, ini perbandingan yang bikin EO mikir ulang strategi:
Yang perlu lo catat: sound horeg itu bukan produk audio. Itu produk sosial. Orang bayar mahal bukan karena suaranya jernih (biasanya malah pecah dan bikin kuping sakit), tapi karena mereka bisa pamer, “Lihat, saya mampu bayar Brewog buat acara anak saya.”
Common Mistakes: 3 Kesalahan EO & Grup Musik yang Bikin Kalah Sama Sound Horeg
Mistake #1: Lo Meremehkan Pasar “Kampung” & Cuma Fokus ke Kualitas Audio
“Ah, sound horeg jelek kualitasnya. Speaker bass doang. Gak balance.”
Lo bener secara teknis. Tapi secara sosial, lo kalah. Warga kampung gak peduli sama frequency response 20Hz-20kHz yang flat. Mereka peduli sama getaran yang bisa dirasakan di dada, sama lampu RGB yang kinclong, sama gimmick yang bisa di-videoin dan diupload ke TikTok.
Solusi: Kalo lo EO atau grup musik, lo harus belajar baca psikologi pasar, bukan cuma buku teknik audio. Turun ke lapangan. Tonton acara hajatan yang pake sound horeg. Pelajari kenapa mereka puas. Lo bisa bikin paket “hybrid”: kualitas profesional + gimmick kampung yang meriah.
Mistake #2: Lo Cuma Mengandalkan Iklan Digital, Lupa Jaringan Mulut ke Mulut
Sound horeg populer dari mulut ke mulut dan video viral di medsos. Mereka jarang pasang iklan banner atau Facebook Ads mahal. Tapi setiap event mereka rekam, mereka upload. Warga lain lihat, tertarik, pesan.
Solusi: Lo harus dokumentasikan setiap event lo dengan cara yang engaging. Bukan foto formal. Tapi video pendek yang nangkep euforia penonton. Daripada lo sibuk bikin brosur, mending lo suruh tim lo rekam reaksi warga pas sound system lo dipake. Itu marketing paling efektif.
Mistake #3: Lo Anggep Regulasi Larangan Adalah Penghalang Utama
Banyak EO dan grup musik mikir: “Kan sound horeg dilarang. Kita gak usah ikut-ikutan.”
Tapi faktanya, di lapangan, banyak daerah yang masih mengabaikan larangan. Atau mereka punya cara “kekeluargaan” buat ngakalin izin. Permintaan dari warga tetap tinggi.
Solusi: Jangan cuma ikut aturan mentah-mentah. Lo harus proaktif. Jalin komunikasi dengan aparat desa dan kecamatan. Buat proposal bahwa event lo tertib, gak mengganggu, punya izin. Lo bisa jadi jembatan antara “keinginan warga” dan “ketertiban umum”. Ini celah pasar yang gede banget.
Practical Tips: Cara Lo Menyaingi (atau Malah Kerja Sama) dengan Sound Horeg
1. Tawarkan Paket “Premium Kampung”
Jangan cuma jual sound system profesional. Tawarkan paket lengkap yang nyatu sama nilai-nilai lokal:
- Tambahin panggung megah
- Sediakan MC lokal yang lucu dan dekat sama warga
- Bikin sesi “request lagu” via WA (biar warga merasa dilibatkan)
Ini yang gue lakuin: lo jadiin sound horeg sebagai fitur, bukan ancaman. Kalo lo bisa combine (audio profesional + gimmick kampung), lo bakal punya diferensiasi gila-gilaan.
2. Rekrut Anak Muda Kampung Jadi Tim Lo
Mereka yang ngerti selera warga. Mereka yang punya koneksi ke RT/RW. Daripada lo ngelawan, lebih baik lo ajak kolaborasi.
Lo latih mereka jadi operator yang paham teknik dan paham sosial. Nanti mereka bisa jadi ujung tombak lo di acara-acara hajatan.
3. Jangan Malas Urus Izin, Tapi Juga Jangan Kaku
Regulasi itu real. Tapi lo bisa jadikan itu sebagai keunggulan kompetitif. Lo urus izin resmi. Lo punya surat lengkap. Lo bisa bilang ke klien, “Kalo pake saya, aman. Gak bakal kena razia.”
Warga kampung tuh sebetulnya males ngurus izin. Mereka pilih sound horeg ilegal karena praktis. Tapi kalo lo bisa kasih kemudahan izin (dengan harga yang masuk akal), mereka bakal milih lo.
4. Rekam dan Sebarkan “Testimoni Visual”
Jangan cuma minta testimoni teks. Rekam video warga yang lagi joget atau senyum seneng di acara lo. Minta izin mereka buat upload. Video kayak gini lebih kuat daripada brosur apapun.
Sebagai EO atau grup musik, lo harus belajar dari Brewog Audio: Rekam setiap acara. Edit jadi konten pendek yang engaging. Sebarkan di TikTok dan Instagram. Pemasaran terbaik adalah ketika calon klien melihat sendiri betapa meriahnya sound system lo dipake.
Kesimpulan: Jangan Lawan, Tapi Belajarlah dari Fenomena
Dulu gue juga mikir, sound horeg itu berisik, gak profesional, dan harus dilawan. Tapi setelah ngeliat data dan realita di lapangan, gue sadar: mereka menang karena mereka paham pasar, bukan karena mereka paham teknik.
Bisnis audio di Indonesia bukan cuma tentang db (decibel) atau THD (total harmonic distortion). Tapi tentang status, kebersamaan, dan kebanggaan.
Lo bisa kesel. Lo bisa gerutu. Atau lo bisa belajar. Ambil pelajaran dari Brewog Audio dan Betavo Audio. Mereka sama-sama sukses karena memahami kebutuhan warga, bukan karena punya sound system paling mahal atau paling jernih.
Jadi, kalo lo pengen bisnis event lo bertahan di 2026, jangan cuma sibuk upgrade peralatan. Turunlah ke kampung. Dengerin apa yang mereka inginkan. Dan berikan itu dengan cara yang profesional.