Kita semua pernah ngerasain, kan? Habis manggung, suara di panggung berantakan. Vokal tenggelam, gitar lead nggak kedengeran, drum kayak kaleng. Lalu kita nyalahin si teknisi sound system. Tapi jujur aja, seringnya masalahnya bukan di mereka. Tapi di cara kita ngobrol. Komunikasi yang efektif sama sound engineer itu bukan tentang lo harus jago frekuensi atau dB. Tapi tentang lo jadi ‘penerjemah’ yang baik antara bahasa seni lo dan bahasa teknis mereka.
Jangan Bilang “Tolong Vokal Saya Dikeraskan”, Tapi…
Itu kalimat paling nggak jelas yang bisa lo kasih ke soundman. “Keras” itu relatif. Mending lo kasih contoh.
Coba ganti dengan: “Mas, suara saya bisa nggak dibuat lebih forward atau upfront dikit? Biar liriknya keluar.” Atau, “Saya mau suara vokal yang lebih wet dikit, ada reverb-nya, biar lebih berjiwa.” Atau bahkan pake referensi: “Saya pengen suara vokalnya agak mirip kayak si Arief, vokalis Band X, gitu.”
Dengan bahasa yang lebih deskriptif kayak gitu, teknisi sound system yang berpengalaman langsung ngerti apa yang lo mau. Mereka bakal adjust EQ, kompresi, atau efeknya. Lo nggak perlu ngerti cara teknisnya, yang penting mereka ngerti feel yang lo pengenin.
Gimana Caranya Jadi “Penerjemah” yang Cerdas? Ini Contohnya…
- Gunakan Bahasa Perasaan dan Posisi, Bukan Teknis. Lo ngerasa suara gitar lo kurang “nggigit”? Jangan bilang, “Tolong naikin gain di mid-frequency.” Bilang aja, “Mas, suara gitar saya bisa dibikin lebih cutting nggak? Biar keluar pas bagian riff-nya.” Atau kalo lo mau suara bass yang lebih “gemuk” dan “ngisi”, bilang, “Bass-nya bisa dibikin lebih beefy dan warm nggak? Biar nggak kayak tulang.”
- Kasih Referensi Sebelum Naik Panggung. Ini langkah paling jitu. Sebelum manggung, kasih soundman rekaman lagu lo (yang udah di-mixing bagus) buat mereka denger. Bilang, “Kira-kira kita pengen suara live-nya mirip kayak ini, Mas.” Dengan begitu, mereka punya gambaran yang jelas tentang sonic goal lo. Sebuah polling di grup musisi lokal nemuin bahwa band yang kasih reference track ke soundman punya tingkat kepuasan sound 70% lebih tinggi.
- Jelaskan Peran dan Dinamik Lagu. Kasih tau soundman struktur lagu lo. “Mas, nih lagu bagian verses-nya minimalis, cuma vokal dan drum. Tapi pas chorus, semua instrument masuk semua, jadi tolong di-balance biar nggak sumpek.” Atau, “Nih lagu ada bagian drum break 8 bar di tengah, tolong dipastiin suara drumnya dominating di bagian itu.” Informasi konteks kayak gini sangat berharga buat mereka.
Tapi, Banyak Band yang Malah Bikin Soundman Jadi Gregetan
Kadang tanpa sadar, kita yang bikin salah.
- Minta yang Mustahil. “Tolong suara saya dibuat kayak di studio.” Ya nggak mungkin, lah. Kondisi akustik panggung dan sistem sound yang terbatas beda jauh sama kondisi studio.
- Nyetel Monitor Panggung Kenceng Banget. Ini bikin feedback dan merusak mix FOH (Front of House) buat penonton. Percuma sound FOH bagus kalo penonton denger suara melengking karena monitor lo kebukaan.
- Sok Tahu Ngutak-Atik Settingan. Jangan sentuh settingan di mixer tanpa izin! Percayain pekerjaan mereka. Kalo ada yang nggak beres, bilang baik-baik.
Jadi, Apa yang Harus Dilakukan Sebelum dan Saat Manggung?
Beberapa langkah praktis buat lo terapkan:
- Datang Lebih Awal dan Soundcheck dengan Serius. Jangan dateng mepet. Gunakan waktu soundcheck buat komunikasi, bukan cuma ngetes suara doang. Ini momen paling krusial buat komunikasi yang efektif.
- Tunjuk Satu Orang Sebagai Perwakilan. Biasanya vokalis atau personil yang paling paham. Jangan semua personil band kasih instruksi yang beda-beda ke soundman. Bikin bingung.
- Bersikap Sopan dan Hargai Mereka. Soundman itu partner lo, bukan bawahan. Ucapkan terima kasih sebelum dan sesudah manggung. Mereka lebih semangat bantu band yang respect sama mereka.
Pada akhirnya, hubungan antara band dan teknisi sound system itu adalah kolaborasi. Bukan hubungan atasan-bawahan.
Dengan belajar komunikasi yang efektif dan jadi “penerjemah” yang baik, lo nggak cuma dapetin sound yang bagus. Tapi juga dapetin sekutu di balik konsol yang bakal bantu lo menghasilkan performa terbaik. Karena sound yang bagus itu lahir dari kolaborasi, bukan dari perintah.
