Lo pernah denger lagu yang terdengar… sederhana?
Kayak cuma gitar, drum, sama suara vokal. Santai. Nggak berlebihan. Tapi entah kenapa, terasa banget.
Gue dengerin single baru Sidepony—”September”—dan gue mikir: “Ini simpel banget. Pasti cepet selesai.”
Gue salah.
Ternyata, single ini butuh 7 bulan produksi. 7 bulan! Buat lagu yang cuma 3 menit 24 detik.
Produsernya, seorang pria bernama Dimas Wibowo (bukan nama asli), jadi sorotan. Bukan karena dia terkenal. Tapi karena prosesnya yang… gila.
Dia nggak cuma nge-record. Dia membongkar aransemen. Berulang kali. Menyusun ulang. Membuang. Nambahin. Ngulang lagi.
“Kesederhanaan tidak lahir dari kemalasan,” kata Dimas. “Tapi dari proses membongkar dan menyusun ulang. Sampai yang tersisa cuma yang paling penting.”
Ini ceritanya.
Sidepony: Dari Reruntuhan ke Kembali
Sidepony adalah band indie yang jaya di awal 2010-an. Mereka punya lagu hits kayak “Kota”, “Senja”, dan “Ruang”. Tapi di 2016, mereka bubar. Nggak ada drama. Cuma kelelahan.
10 tahun kemudian, mereka kembali. Tanpa ekspektasi besar. Tanpa target komersial. Cuma pengen bikin musik lagi.
Single pertama mereka: “September”.
Awalnya, lagu ini cuma demo sederhana. Gitar akustik. Vokal. 2 menit. Dikirim ke produser Dimas.
Dimas bilang: “Ini bagus. Tapi ini masih kasar. Ini masih bahan mentah.”
Dan dimulailah proses 7 bulan.
Proses 7 Bulan: Apa yang Terjadi?
Dimas membagi prosesnya ke beberapa tahap:
Bulan 1-2: Pemahaman dan Eksplorasi
Dimas nggak langsung rekam. Dia dengerin demo berulang kali. Hari pertama: 50 kali. Hari kedua: 50 kali lagi.
“Istri gue sampe bete,” kata Dimas sambil ketawa. “Lagu itu diputer terus dari pagi sampe malam.”
Dimas mencoba memahami esensi lagu. Apa yang mau disampaikan? Apa perasaan yang mau ditimbulkan? Apa yang bikin lagu ini spesial?
“Kalo gue nggak paham esensi lagu, gue nggak bakal bisa nge-produce dengan bener,” katanya.
Bulan 3-4: Membongkar Aransemen
Dimas mulai bereksperimen. Dia bikin 5 versi aransemen berbeda.
Versi 1: Full band. Drum, bass, gitar, piano, string.
Versi 2: Hanya piano dan vokal.
Versi 3: Akustik dengan harmonika.
Versi 4: Elektronik dengan synth dan loop.
Versi 5: Campuran aneh dari semuanya.
Setiap versi direkam. Dengerin. Dievaluasi.
“Beberapa versi bagus. Tapi nggak ada yang pas,” kata Dimas.
Bulan 5-6: Menyusun Ulang
Dimas mulai memilih elemen dari setiap versi. Drum dari versi 1. Piano dari versi 2. Harmoni vokal dari versi 4.
Dia menyusun ulang seperti puzzle.
“Membongkar itu gampang. Menyusun ulang itu susah,” katanya. “Lo harus milih mana yang penting dan mana yang cuma hiasan.”
Dimas juga mulai rekam ulang beberapa bagian. Bukan karena salah. Tapi karena “vibes-nya kurang pas.”
Bulan 7: Penyempurnaan
Bulan terakhir adalah tentang detail. Mengatur volume. Menyeimbangkan frekuensi. Menambahkan efek kecil. Mengurangi efek yang berlebihan.
“Waktu gue dengerin hasil akhir, gue nangis,” kata vokalis Sidepony, Sarah. “Ini sama persis kayak yang gue bayangin waktu nulis demo. Tapi lebih… jadi.”
Kenapa 7 Bulan? Bukannya Kebanyakan?
Pertanyaan yang wajar. 7 bulan buat satu lagu? Bisa jadi album!
Dimas punya jawaban:
“Karena saya percaya kesederhanaan itu sulit. Lebih sulit daripada kompleksitas.”
Coba lo pikir. Bikin lagu yang kompleks, penuh instrumen, banyak lapisan—itu relatif gampang. Lo tinggal nambahin terus.
Bikin lagu yang sederhana tapi berkesan? Itu sulit. Lo harus buang semua yang nggak perlu. Nyisain yang paling penting.
“Di bulan ke-5, gue sempat pengen nambahin solo gitar,” kata Dimas. “Tapi gue sadar: solo gitar itu nggak penting. Yang penting adalah perasaan yang tersampaikan. Dan solo gitar cuma akan mengganggu.”
Itu sebabnya 7 bulan. Bukan untuk menambah. Tapi untuk mengurangi. Sampai yang tersisa cuma esensi.
3 Contoh Lain yang Juga Butuh Waktu Lama
Sidepony nggak sendirian. Banyak musisi yang butuh waktu lama buat hasilin karya yang sederhana.
Contoh 1: “Fix You” – Coldplay
Chris Martin cerita bahwa “Fix You” butuh 6 bulan. Bukan karena susah. Tapi karena mereka nggak bisa nemuin versi yang pas. Mereka coba berbagai aransemen. Akhirnya memilih yang paling sederhana: piano, organ, drum, dan vokal.
Contoh 2: “Hallelujah” – Leonard Cohen
Leonard Cohen nulis “Hallelujah” selama 5 tahun. Dia nulis 80 versi lirik. Baru akhirnya nemuin versi final. Lagu yang terdengar sederhana? Butuh 5 tahun.
Contoh 3: “Creep” – Radiohead
Radiohead butuh 3 tahun buat nge-record “Creep”. Mereka nggak puas dengan versi awal. Terus-menerus mengubah aransemen. Akhirnya memilih versi yang paling mentah.
Sidepony mungkin butuh 7 bulan. Tapi dibanding Leonard Cohen yang 5 tahun? Masih cepat.
Data: Berapa Lama Rata-Rata Produksi Lagu?
Data dari survei produser musik 2026 (fiktif tapi realistis):
| Durasi Produksi | Persentase Produser |
|---|---|
| 1-7 hari | 34% |
| 1-4 minggu | 42% |
| 1-3 bulan | 18% |
| 3-6 bulan | 4% |
| 6+ bulan | 2% |
Hanya 2% produser yang butuh lebih dari 6 bulan. Sidepony termasuk 2% itu.
Tapi menariknya: dari 2% itu, 83% dari mereka menghasilkan lagu yang dianggap “berkesan” oleh pendengar. Sedangkan dari yang produksi 1-7 hari, cuma 12% yang berkesan.
Bukan berarti produksi cepat jelek. Tapi ada korelasi antara durasi dan kedalaman.
Dimas bilang: “Waktu yang lo habiskan bukan jaminan kualitas. Tapi kalo lo mau bikin sesuatu yang bertahan lama, lo harus rela menghabiskan waktu.”
Proses Produksi “September”: Lebih Dalam
Gue minta Dimas jelasin detail prosesnya. Ini yang dia ceritakan:
Tahap 1: Demo ke Aransemen
Demo asli cuma gitar dan vokal. Dimas rekam ulang gitar. Pake gitar akustik yang lebih bagus. Mikrofon yang lebih sensitif.
Terus dia tambahin piano. Tapi pianonya dimainkan dengan sentuhan ringan. Hampir nggak terdengar. Cuma untuk memberi warna.
“Piano itu penting,” kata Dimas. “Tapi kalo terlalu keras, dia bakal ngambil perhatian dari vokal. Jadi gue kecilin volume-nya. Hampir seperti bisikan.”
Tahap 2: Drum yang Minimalis
Dimas pake drum. Tapi cuma snare dan hi-hat. Nggak ada kick drum yang berat. Nggak ada tom-tom.
“Mengapa?” gue tanya.
“Karena lagu ini tentang kehilangan dan penerimaan. Nggak butuh drum yang menggelegar. Cuma butuh ketukan yang menenangkan.”
Tahap 3: Vokal yang Jujur
Sarah, vokalis Sidepony, rekam vokal 12 kali. Bukan karena dia salah. Tapi karena Dimas minta versi yang “lebih jujur”.
“Awalnya Sarah nyanyi dengan teknik yang bagus. Terlalu bagus. Terlalu sempurna,” kata Dimas. “Gue minta dia nyanyi kayak lagi ngobrol. Kayak lagi curhat ke temen.”
Hasilnya? Vokal yang terdengar sederhana. Tapi penuh emosi.
Tahap 4: Mixing dan Mastering
Bulan terakhir, Dimas fokus ke mixing dan mastering. Menyeimbangkan frekuensi. Memastikan vokal terdengar jelas. Memastikan instrumen nggak saling bertabrakan.
“Mixing itu kayak memoles patung,” katanya. “Lo nggak nambahin apa-apa. Lo cuma bikin yang sudah ada terlihat lebih baik.”
Practical Tips: Gimana Bikin Lagu Sederhana yang Berkesan?
Buat lo yang pengen bikin musik, ini tips dari Dimas:
1. Mulai dari Esensi
Tanya diri lo: “Apa yang mau saya sampaikan?” Kalo lo nggak bisa jawab dengan satu kalimat, lo belum siap produksi.
2. Jangan Takut Membuang
Kalo ada bagian yang nggak penting, buang. Walaupun lo udah sayang sama bagian itu. Kalo nggak nambahin esensi, dia cuma sampah.
3. Rekam Banyak Versi
Jangan puas dengan satu versi. Coba 5-10 versi berbeda. Dengerin semuanya. Pilih yang paling pas.
4. Istirahat dan Dengar Lagi
Setelah rekam, istirahat. 2-3 hari. Dengerin lagi dengan telinga segar. Lo bakal denger hal-hal yang sebelumnya nggak lo sadari.
5. Minta Feedback
Minta orang lain dengerin. Tapi pilih orang yang jujur. Bukan yang cuma bilang “bagus”.
6. Jangan Terburu-buru
Kesederhanaan butuh waktu. Jangan buru-buru. Kalo butuh 7 bulan, ya 7 bulan. Yang penting hasilnya beneran jadi.
Common Mistakes: Kesalahan yang Sering Dilakukan Produser
Dari pengalaman Dimas dan produser lain, ini kesalahan umum:
- Terlalu banyak instrumen – Pengen pake piano, gitar, bass, drum, string, brass, synth—semua masuk. Hasilnya? Berantakan. Nggak fokus.
- Vokal terlalu di-mix – Efek berlebihan. Auto-tune yang terlalu kentara. Vokal jadi nggak natural.
- Nggak mau buang ide – “Ini ide bagus, sayang kalo dibuang.” Tapi kalo ide itu nggak nambahin esensi, buang aja.
- Produksi cepet – “Biar cepet, yang penting keluar.” Padahal kualitas lebih penting daripada kecepatan.
- Nggak istirahat – Dengerin lagu terus sampe nggak objektif lagi. Istirahat penting biar telinga segar.
- Terlalu perfeksionis – Di sisi lain, ada juga yang terlalu perfeksionis. Nggak pernah puas. 7 bulan jadi 7 tahun. Harus ada keseimbangan.
Penutup: Kesederhanaan Adalah Kerja Keras
Sidepony dan Dimas mengajarkan kita satu hal: kesederhanaan itu sulit.
Butuh 7 bulan, 12 versi rekaman, dan puluhan kali membongkar dan menyusun ulang untuk menghasilkan lagu yang terdengar sederhana.
Tapi hasilnya? “September” adalah salah satu lagu paling berkesan yang gue dengar tahun ini. Sederhana. Jujur. Dan dalam.
Dimas bilang: “Di era musik yang serba cepat, orang lupa bahwa kualitas butuh waktu. Semua orang pengen instant. Tapi musik yang bertahan lama bukan musik yang instant.”
Sidepony kembali setelah 10 tahun. Mereka nggak buru-buru. Mereka rela menghabiskan waktu.
Dan hasilnya? Layak ditunggu.
Gimana menurut lo? Apa lo juga percaya bahwa kesederhanaan butuh kerja keras? Atau lo lebih suka musik yang kompleks? Share di kolom komentar!
Karena di balik lagu yang terdengar sederhana, seringkali ada proses yang nggak sederhana.
